Jumat, Oktober 28, 2011

Komodo

Di Indonesia, Taman Nasional Komodo mencakup tiga pulau besar Komodo, Rinca dan Padar, serta banyak lagi pulau-pulau yang lebih kecil, dengan total luas 1.817 kilometer persegi (603 kilometer perseginya daratan). Taman nasional ditetapkan tahun 1980 untuk melindungi komodo. Kemudian, taman nasional ini juga didedikasikan untuk melindungi spesies lain, termasuk hewan laut. Pulau-pulau taman nasional berasal dari kegiatan vulkanik.

sumber : http://www.new7wonders.com/archives/wonder/komodo-7?lang=id
READ MORE - Komodo

Jumat, Maret 05, 2010

Pemanasan global


Pemanasan global atau Global Warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.

Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change(IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#Penyebab_pemanasan_global


READ MORE - Pemanasan global

Menangkal Banjir Jakarta

Koran Tempo - 28 Desember 2007
Tahun 2007 Jakarta kembali diterjang banjir. Banjir yang didominasi air laut pasang (rob) di Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, itu disebabkan oleh peristiwa siklus bulan. Hujan yang cukup lebat di laut sebelah utara Jakarta ikut menambah volume air yang menggenangi Jakarta.

Banjir di wilayah Jakarta terjadi karena air pasang dari laut masuk dan mencari tempat yang lebih rendah. Kebetulan sebagian wilayah Jakarta Utara (sekitar 40 persen) secara topografi lebih rendah dari permukaan laut. Tahun ini siklus bulan (lunar cycle) setiap 18,6 tahun merupakan penyebab utama air pasang.

Sifat air pasang ini tidak permanen. Secara umum kejadian air pasang akan mencapai titik maksimum pada pukul 12 siang, yaitu 12 jam sejak gelombang pasang dimulai tengah malam sebelumnya yang bertepatan dengan bulan purnama. Diperkirakan ketinggian air yang menggenangi wilayah Jakarta Utara mencapai 1,2 meter.

Sementara itu, diperkirakan air pasang laut menjelang akhir 2007 akan bertambah tinggi, hingga mencapai 1,5 meter, akibat gelombang laut yang terjadi dengan embusan angin dari Laut Cina Selatan. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tapi juga di wilayah Indonesia lainnya, mulai Sumatera, Jawa, sampai Nusa Tenggara.

Khusus untuk wilayah Jakarta, pergerakan angin akan bertemu pada titik konvergensi di sepanjang daratan Jawa, termasuk Jakarta. Kondisi tersebut sangat berpotensi terjadinya pembentukan awan dan turunnya hujan di wilayah laut serta sebagian daratan Jakarta. Alhasil, ketinggian air bisa lebih besar di wilayah Jakarta akibat tiga fenomena alam tersebut sekaligus (air pasang akibat siklus bulan, gelombang laut akibat embusan angin, serta curah hujan di laut dan sebagian kecil di daratan Jakarta).

Tim Institut Teknologi Bandung telah melakukan simulasi khusus untuk menghitung luas kejadian genangan di Jakarta beberapa waktu yang lalu. Kejadian air pasang yang terjadi pada Senin lalu di wilayah Jakarta, khususnya Jakarta Utara, telah merendam 25 kilometer persegi atau 3,8 persen dari wilayah Jakarta. Wilayah yang terparah terendam berturut-turut adalah Muara Baru, Muara Angke, dan sekitar Pluit. Kejadian genangan di wilayah Jakarta utara tersebut relatif lebih kecil dibandingkan dengan genangan yang terjadi pada awal Februari 2007.

Tentu dapat dibayangkan apabila volume air hujan dari Bogor, yang dapat mencapai 1.600 meter kubik per detik, masuk ke wilayah Jakarta, dan Jakarta akan kelebihan jumlah air. Diperkirakan potensi kejadian ini akan sangat besar terjadi pada satu bulan mendatang.

Apabila Kanal Banjir Timur dan Kanal Banjir Barat dapat menampung volume aliran air dari Bogor masing-masing 300 meter kubik per detik, masih ada sisa 1.000 meter kubik per detik lagi yang terpaksa ditampung oleh wilayah Jakarta. Tentu saja kejadian ini akan membuat Jakarta selalu berpotensi menjadi wilayah banjir atau genangan.

Kondisi terendamnya Jakarta secara tidak permanen tersebut pada masa mendatang akan terjadi secara permanen akibat dua hal, yakni kenaikan muka laut akibat pemanasan global (dengan laju kenaikan 0,57 sentimeter per tahun) serta penurunan muka tanah Jakarta akibat beban bangunan dan eksploitasi air tanah (dengan laju penurunan 0,80 sentimeter per tahun) di wilayah Jakarta.

Sementara itu, iklim juga berubah. Diprediksi pola curah hujan dari wilayah Bogor bergeser 3-5 persen per tahun memasuki wilayah Jakarta, dan ini dipastikan akan menambah volume air hujan yang langsung memasuki wilayah Jakarta. Hasilnya dapat diprediksi: Jakarta akan terendam secara permanen.

Model penangkalan banjir yang dikembangkan oleh tim ITB pada awal tahun ini memprediksi bahwa paling tidak sekitar 24 persen wilayah Jakarta akan terendam air secara permanen pada 2050. Apabila model tersebut disimulasikan untuk 2100, diperkirakan Monumen Nasional, yang merupakan kebanggaan rakyat Indonesia, akan mulai tergenang pada 2080.

Antisipasi secara struktural dan terencana mesti segera dilakukan oleh berbagai pihak, baik oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta maupun pemerintah pusat. Di masa mendatang, untuk mengatasi banjir permanen akibat kenaikan muka laut tersebut, dianggap lebih pas kalau dilakukan pembangunan dinding tegakan laut (seawall).

Sementara itu, polder atau sumur resapan dapat dibangun di daratan Jakarta. Dibutuhkan dana sekitar US$ 39 miliar untuk pengembangan seawall di sepanjang pantai Jakarta. Walaupun pembangunan seawall jauh lebih mahal dibanding usaha lain, biaya ini jauh lebih rendah ketimbang dampak banjir (0,24 persen).

Usul pembangunan seawall ini dipandang lebih baik ketimbang pembangunan daerah jebakan air pasang (polder). Karena pengembangan polder berpotensi menimbulkan kerugian pada kegiatan masyarakat yang ada di wilayah pengembangan polder.

Kesuksesan pengembangan polder di Belanda 100 tahun yang lalu sangat jauh berbeda dengan kondisi wilayah pantai Jakarta yang sudah berkembang menjadi daerah hunian dan industri serta adanya penurunan muka tanah.

Untuk menangani limpasan air dari wilayah selatan yang memasuki Jakarta, pemerintah DKI Jakarta dapat memanfaatkan limpahan air dari Bogor tersebut menjadi sumber air utama wilayah Jakarta, sehingga lambat laun eksploitasi air tanah dapat dihentikan dalam upaya mengurangi penurunan muka tanah Jakarta.

Jelas sudah, kejadian banjir nonpermanen terjadi setiap tahun di Jakarta Utara. Kejadian yang lebih luas dapat terjadi setiap tahun karena iklim tidak mengenal periode ulang lima tahunan. Implikasi pemanasan global terus menerpa Jakarta dengan kenaikan muka lautnya, ditambah lagi laju pembangunan dan eksploitasi air tanah tidak mudah dihentikan.

Sekarang semua menunggu langkah konkret dari pengambil keputusan untuk secara sadar dan cepat mengurangi beban yang terus menerus ditanggung masyarakat.

Dr Armi Susandi, MT Ketua Program Studi Meteorologi ITB dan Pakar Perubahan Iklim


READ MORE - Menangkal Banjir Jakarta

2050, Jakut Tenggelam

Kondisi Jakarta juga diperparah oleh turunnya permukaan tanah akibat pola pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. Rata-rata penurunan muka tanah di Jakarta berkisar 0,87 cm per tahun.Keberadaan gedung-gedung pencakar langit yang menghujam tanah Jakarta perlu dikaji ulang.

[JAKARTA] Laju pemanasan global yang berlangsung saat ini mengancam kelestarian sejumlah kawasan di

Indonesia. Dalam 100 tahun terakhir suhu permukaan bumi naik satu derajat Celsius, dan mengakibatkan naiknya permukaan air laut di seluruh dunia.

Menurut Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) Departemen Keluatan dan Perikanan Indroyono Susilo kepada SP, di Jakarta, Sabtu (1/3), fenomena tersebut bisa dilihat dengan semakin tingginya intensitas tumpahan air laut ke darat (rob), termasuk banjir besar yang merendam sebagian wilayah di DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Lumpuhnya Bandara Soekarno Hatta, juga tak lepas dari akibat fenomena naiknya muka air laut.

Berdasarkan simulasi yang dilakukan BRKP, pada tahun 2050, sekitar 25 persen wilayah Jakarta Utara (Jakut) akan tenggelam. Kawasan seperti Ancol, Pantai Indah Kapuk, Koja, dan Tanjung Priok hilang dari peta Indonesia.

"Kawasan seluas 160 kilometer persegi atau sekitar 25 persen wilayah Jakarta akan tenggelam secara permanen," ungkap Indroyono.

Secara kasat mata, lanjutnya, tanda-tanda awal tenggelamnya kawasan itu bisa dilihat dari garis pantai di utara kota yang dulu bernama Batavia ini, sudah berubah. Garis pantai mulai masuk ke daratan akibat proses abrasi (pengikisan daratan oleh air laut). Laju kenaikan muka laut rata-rata 0,57 cm per tahun. Kecepatan naik muka air laut di beberapa wilayah utara Jakarta berbeda-beda.

Tetapi, menurut hasil penelitian tim dari Institut Teknologi Bandung, tren yang muncul menunjukkan kenaikan. Pada 1925, kondisi muka laut di Teluk Jakarta tercatat 51,19 cm.
Dalam 25 tahun berikutnya (1950), muka laut bertambah 14,37 cm.

Pada 25 tahun selanjutnya (1975), terjadi kenaikan muka laut 14,38 cm. Jumlah kenaikan muka laut Teluk Jakarta setiap 25 tahun berada di kisaran 14,37 cm, atau rata-rata kenaikan per tahun 8 mm. Berdasarkan asumsi tersebut, pada 2050 diperkirakan muka laut di Teluk Jakarta akan mencapai 123,06 cm (1,23 meter).

Indroyono mengingatkan, hasil riset lembaga penelitian internasional dari badan riset Australia yang menyebutkan kenaikan muka laut yang secara berangsur-angsur menunjukkan tren kenaikan, akan mengancam kelangsungan negara kepulauan.

Dalam penelitian itu disebutkan, pada 2001, Tuvalu, negara kepulauan di Samudera Pasifik, terpaksa mengungsikan 11.000 warganya akibat kenaikan muka laut. Tuvalu terpaksa menandatangani perjanjian dengan Selandia Baru, agar mau menerima warganya yang terpaksa diungsikan.

Kondisi ini tidak terlepas dari peristiwa yang terjadi pada 1995-2002, yakni semenanjung Kutub Selatan kehilangan sandaran es seluas 12.500 kilometer persegi, atau setara empat kali lipat luas wilayah Luksemburg.

Jika masyarakat Jakarta termasuk pemerintah tidak mengambil langkah-langkah positif, misalnya memperbaiki wilayah pesisir dengan menumbuhkan kembali vegetasi bakau, bukan tidak mungkin sebagian warga Jakarta akan menjadi pengungsi cuaca seperti yang dialami warga Tuvalu.

Sementara itu, peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Armi Susandi mengatakan, kondisi Jakarta juga diperparah oleh turunnya permukaan tanah akibat pola pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. Rata-rata penurunan muka tanah di Jakarta berkisar 0,87 cm per tahun. Keberadaan gedung-gedung pencakar langit yang menghujam tanah Jakarta perlu dikaji ulang.

Saat ini Jakarta tak ubahnya belantara beton. Berdasarkan penelitian Bloomberg, New York, keberadaan gedung pencakar langit sangat berperan besar dalam meningkatkan emisi karbondioksida (CO2). Setidaknya, 79 persen emisi gas rumah kaca diproduksi wilayah perkotaan. Sedangkan 21 persen emisi karbondioksida dihasilkan dari penggunaan energi dari sektor transportasi massa.

Rehabilitasi Mangrove

Terkait persoalan tersebut, Guru Besar Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dietriech G Bengen menjelaskan, kondisi Jakarta hanyalah sebagian kecil dari wilayah yang mewakili pesisir di Pulau Jawa. Jika pola pembangunan di seluruh pesisir Jawa tidak mengindahkan lingkungan, seperti dibabatnya vegetasi hutan bakau di sepanjang pantai utara hingga di selatan Jawa, bukan tidak mungkin pada 2050 Pulau Jawa akan "kurus", akibat sebagian wilayah pesisir tenggelam.
"Laju kenaikan muka air laut bisa dihambat dengan merehabilitasi hutan mangrove di seluruh pesisir Jawa," ujar Dietriech.

Hasil kajian BRKP maupun IPB menyebutkan, dalam lima tahun ke depan sebanyak 2.000 pulau akan hilang dari peta Indonesia akibat naiknya permukaan air laut. "Oleh karena itu Indonesia harus mengerahkan segenap kemampuan untuk mencegah bencana lingkungan tersebut," tambah Dietriech. [L-11]


Last modified: 1/3/08


READ MORE - 2050, Jakut Tenggelam

Selasa, Januari 19, 2010

Mei 2010, Wanadri Gelar Ekspedisi "Tujuh Puncak Dunia"

BANDUNG - Kelompok penempuh rimba dan pendaki gunung Wanadri Bandung akan melakukan ekspedisi pendakian tujuh puncak gunung tertinggi di dunia (the Seven Summits) selama tiga tahun, terhitung mulai Mei 2010 mendatang.

"Ekspedisi akan digelar dalam waktu tiga tahun sekaligus menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang pendakinya telah melakukan penaklukkan di tujuh gunung tertinggi dunia," kata staf operasi Wanadri Bandung Ardeshir Yaftebbi di Bandung, Selasa (29/12/2009).

Yaftebbi mengatakan, ekspedisi yang terdiri dari enam pendaki terbaik Wanadri ini dinamai dengan "Wanadri Untuk Indonesia di Atap-Atap Dunia". Ketujuh puncak gunung tertinggi dunia yang akan menjadi target ekspedisi Wanadri itu antara lain Puncak Carstenz Pyramid di Papua, Kilimanjaro di Afrika, Elbrus di Eropa, Aconcagua di Amerika Selatan, Mc Kinley di Amerika Serikat, Vinsson Massif di Antartika, serta puncak tertinggi di dunia, Gunung Everest, di pegunungan Himalaya, di Asia Selatan.

"Pendakian ini akan diawali dari Carstenz Pyramid dan diakhiri dengan ekspedisi penaklukan Mount Everest," kata Yaftebbi.Pendakian selama tiga tahun tersebut akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan dan persiapan tim yang dilakukan secara matang. "Ekspedisi itu dilakukan cukup panjang, yakni tiga tahun, karena tidak semua gunung bisa didaki setiap saat sehingga harus disesuaikan dengan kondisi," katanya.

Yaftebbi mengatakan, ekspedisi tujuh puncak tertinggi dunia itu dilakukan dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat bangsa dan negara di mata dunia internasional. Dia menyebutkan, dari 245 negara di dunia, tercatat baru 23 negara yang para pendakinya telah menaklukan ketujuh puncak gunung tertinggi di dunia itu.

"Salah satunya Singapura, tetangga kita yang tidak punya gunung itu merupakan salah satu dari 23 negara tersebut. Jadi, kenapa kita yang punya puncak tertinggi (Carstenz Pyramid) tidak bisa melakukannya? Wanadri siap melakukannya," katanya.

Yaftebbi mengakui, untuk melakukan ekspedisi tersebut membutuhkan dana tidak sedikit, yakni sekitar Rp 7 hingga Rp 8 miliar. Namun demikian, lanjut dia, hal itu tidak masalah dan pihaknya siap menggalang dana untuk ekspedisi ini, termasuk menggandeng pemerintah dan menggaet sponsor secara profesional.

"Dari serangkaian ekspedisi pendakian itu, biaya terbesar ada pada pendakian terakhir di Mount Everest," tambahnya.



http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/12/29/16010290/mei.2010.wanadri.gelar.ekspedisi.tujuh.puncak.dunia
READ MORE - Mei 2010, Wanadri Gelar Ekspedisi "Tujuh Puncak Dunia"

Senin, Januari 11, 2010

Arus Liar Sapu Bersih Piala Kejurnas Arung Jeram Di Sungai Ciberang

Sembilan belas tim arung jeram unggulan dari berbagai daerah di Indonesia berlomba mengukir prestasi dalam ajang Kejurnas Arung Jeram Ciberang Banten 2009. Selain merupakan kompetisi arung jeram nasional yang paling bergengsi dan paling diminati, kejurnas yang diselenggarakan di Sungai Ciberang, Banten 21-23 Desember 2009 ini juga merupakan ajang seleksi bagi atlit arung jeram untuk dapat berlaga di kompetisi tingkat internasional.

Minat klub arung jeram Indonesia untuk ikut sebagai peserta kejuaraan internasional tahun ini sangat besar mengingat perhelatan kompetisi se benua bertajuk IRF Australasian Rafting Champ pada tahun 2010 akan digelar di Indonesia. Dua tim putra dan putri pemenang kejurnas akan punya kesempatan lebih besar karena tidak perlu mencari dana terlalu besar untuk mengongkosi atlitnya dibandingkan jika harus bertanding di luar negeri. Pembiayaan kerap menjadi kendala bagi tim Indonesia untuk dapat berpartisipasi di kejuaraan tingkat internasional. Sementara prestasi atlit arung jeram Indonesia juga tak bisa dianggap remeh.

Pada ajang World Rafting Championship 2007, dalam pidatonya, Presiden IRF (International Rafting Federation), Raffael Gallo menyatakan Tim Indonesia sebagai The Rising Star. Tim Indonesia juga telah menjadi Runner Up dalam arena World Cup Japan 2008. Dengan menjadi tuan rumah, Tim Indonesia juga memiliki waktu yang cukup panjang untuk mempelajari Sungai Serayu dan Progo yang akan dijadikan arena perlombaan.
Tim Arus Liar dari DKI Jakarta kembali mengukir prestasi dengan menyapu bersih semua nomor lomba. Tim yang sejak pertama kali Kejurnas Arung Jeram digelar oleh FAJI (Federasi Arung Jeram Indonesia) menduduki peringkat I ini telah berupaya mati-matian untuk terus dapat mempertahankan prestasinya selama kurun waktu 12 tahun. Dalam nomor Sprint, atau kecepatan jarak pendek, Tim Arus Liar mengungguli lawan-lawannya. Berada pada posisi pertama, Tim Arus Liar unggul dari lawannya Songa dari Jatim di nomor Head to Head. DI babak semi final, Tim Arus Liar sempat tertinggal di belakang tim unggulan Kapinis dari Jawa Barat namun berhasil menyusul melalui celah jeram yang sempit dan akhirnya melaju ke babak final. Pada babak final, Tim Arus Liar melaju di depa Riam Jeram dari DKI.

Pada nomor Slalom putaran pertama Tim Arus Liar melewati kedua belas gawang di lintasan dengan mulus dan menduduki peringkat pertama. Di nomor terakhir yang paling bergengsi Tim Arus Liar mengarungi Sungai Ciberang dengan waktu 43 menit disusul Riam Jeram yang akhirnya menempati posisi kedua dalam keseluruhan poin pertandingan. Pada hasil akhir, Tim Arus Liar mendapat total core 1000 angka tertinggi dalam kejuaraan arung jeram disusul Tim Riam Jeram dengan score 796 dan Kapinis Calw dari Jawa Barat dengan total score 767.

Di kelas Putri, Tim Kapinis ClawPutri dari Jawa Barat memperoleh score 979 disusul Tim Sulut putri dengan total score 874 dan Kota Malang, Jawa Timur berada di peringkat III dengan total score 817.
Tantangan berikutnya untuk tim-tim pemenang adalah mempersiapkan diri menghadapi tim-tim unggulan dari berbagai negara di Asia dan Australasia. Tim unggulan dari Jepang, Australia, New Zealand dan tim lainnya dari Philippine, India, Turkey, Iran dan Malaysia juga telah mempersiapkan tim nasional negaranya untuk menjajal ganasnya jeram-jeram di Sungai Serayu dan Progo. Semoga Merah Putih dapat berkibar di arena kompetisi internasional ini.
Sumber : http://myzone.okezone.com/index.php/content/read/2009/12/24/3/45/arus-liar-sapu-bersih-piala-kejurnas-arung-jeram
READ MORE - Arus Liar Sapu Bersih Piala Kejurnas Arung Jeram Di Sungai Ciberang

INFORMASI DAN PERATURAN UMUM KEJUARAAN NASIONAL ARUNG JERAM (R-6) CIBERANG – BANTEN 2009 21 - 24 Desember 2009




PENGURUS BESAR FEDERASI ARUNG JERAM INDONESIA (PB FAJI) bekerjasama dengan Pengurus Daerah Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Banten dan Pemerintah Provinsi Banten mengundang Pengurus Daerah Federasi Arung Jeram di Indonesia untuk berpartisipasi dalam KEJUARAAN NASIONAL ARUNG JERAM (R-6) CIBERANG - BANTEN 2009 yang akan diselenggarakan di sungai Ciberang – Banten tanggal 21 – 24 Desember 2009.
PENDAHULUAN
Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) yang dibentuk pada tahun 1996 merupakan wadah beraktifitasnya para penggiat Arung Jeram di Indonesia. Sejak itu pembinaan Arung Jeram mulai dilakukan secara terorganisir, baik dalam bentuk pelatihan maupun kejuaraan. Dengan mengacu pada standar International Rafting Federation (IRF), FAJI secara terus menerus melakukan usaha mengembangkan olah raga arung jeram sebagai olah raga prestasi di Indonesia, selain itu juga melakukan pembinaan di bidang wisata arung jeram yang aman dan profesional.
KEJURNAS ARUNG JERAM (R-6) CIBERANG – BANTEN 2009 merupakan kalender utama PB FAJI yang diselenggarakan dengan kerjasama dan dukungan penuh oleh Pemerintah Provinsi Banten dan Kabupaten Lebak. Kejurnas ini dilaksanakan sekaligus sebagai ajang Seleksi tim nasional untuk dapat lolos dan berlomba pada kejuaraan Australasia Rafting Championship 22 – 27 April 2010 di Sungai Serayu dan Sungai Progo Provinsi Jawa Tengah.
LOKASI KEGIATAN
Sungai Ciberang, Desa Muhara, Kec. Lebak Gedong – Cipanas, Kab. Lebak, Provinsi Banten
WAKTU DAN JADWAL
KEJURNAS ARUNG JERAM (R-6) CIBERANG – BANTEN 2009 direncanakan dilaksanakan pada tanggal 21 – 24 desember 2009, jadwal kegiatan sebagai berikut :
30 Oktober–5 Desember 2009 Pendaftaran Peserta
16 – 17 desember 2009 Pelatihan River Rescue
18 Desember 2009 Pelatihan Juri
19 Desember 2009 Pelatihan Juri
Peserta sampai di Lokasi Lomba
Registrasi
20 Desember 2009 Official Training Run
21 Desember 2009 Opening Ceremony / Sprint & H2H Race/ Prize Award
22 Desember 2009 Slalom / Prize Award
23 Desember 2009 Down River Race / Closing Ceremony –
Grand Prize Award - Peserta kembali
BENTUK KEGIATAN
KEJUARAAN NASIONAL ARUNG JERAM CIBERANG BANTEN 2009 merupakan kegiatan multi event dengan kegiatan utama adalah Kejuaraan arung jeram, selain itu juga diselenggarakan acara-acara pendukung berupa :
• Bazar & Wisata Kuliner
Pada saat penyelenggaraan event ini juga dilaksanakan bazaar yang dikoodinir oleh Panitia, dimana tersedia makanan dan minuman, souvenir bagi atlit dan pengunjung.
• Pendidikan dan Pelatihan
Pada event ini juga dilaksanakan pendidikan dan pelatihan serta Sertifikasi :
a. Pelatihan River Rescue
b. Pelatihan Juri dan Manajemen Lomba
Pendidikan dan Pelatihan yang dilaksanakan sepenuhnya dibawah Supervisi PB FAJI dengan melibatkan unsur-unsur FAJI yang ada di Propinsi. Persyaratan dan prosedur pendaftaran akan diumumkan tersediri.
• Pentas Seni dan Budaya Daerah Provinsi Banten
Penampilan Seni Budaya khas Daerah Banten.

KLASIFIKASI LOMBA
KEJURNAS ARUNG JERAM (R-6) CIBERANG – BANTEN 2009 termasuk dalam Kejuaraan Arung Jeram Kategori R-6 (6 Pedayung) Level D yang peraturan lombanya menyesuaikan dengan Juklak Pertandingan Arung Jeram FAJI/IRF.
PESERTA PERTANDINGAN
• Ketentuan Umum
o Tim Peserta KEJURNAS ARUNG JERAM 2009 mewakili masing-masing Pengda FAJI, dibuktikan dengan Surat pengantar dari Pengda FAJI setempat.
o Tim Peserta adalah Anggota FAJI.
o Kompetisi terbagi atas Kelas Umum Putra dan Putri
o Jumlah total Tim peserta maksimal adalah 30 (tiga puluh) tim terdiri dari 20 (dua puluh) tim putra dan 10 (sepuluh) tim putri . Bila jumlah Peserta Putri tidak mencapai kuota, akan diisi dengan Tim Putra sampai mencapai batas maksimal peserta 30 (tiga puluh) Tim.
• Ketentuan Anggota Tim:
o Kompetisi ini termasuk dalam kategori R-6 dimana tiap Tim terdiri dari 6 (enam) orang pendayung ditambah 1 (satu) orang cadangan dan 1 (satu) orang Manajer Tim.
o Peserta berusia minimal 17 tahun.
o Seluruh nama dan identitas Tim Peserta harus didaftarkan sesuai nama KTP/SIM/ID (dapat menyebutkan tambahan nama alias).
• Ketentuan Tim Peserta :
o Setiap Pengda dapat mengirimkan 1 (satu) tim putra dan 1 (satu) tim putri.
o Tim Peserta Kejuaraan ini terdiri dari perwakilan Pengda FAJI yang ditentukan berdasarkan seleksi atau kualifikasi sesuai dengan kebijakan Pengda FAJI masing-masing.
o Setiap pengda dapat mendaftarkan beberapa Tim Peserta Cadangan sesuai peringkat daerah, yang akan dipastikan keikutsertaanya sebagai peserta setelah penutupan pendaftaran tanggal 5 Desember 2009.
o Pengda yang tidak mendaftarkan Timnya sesuai dengan persyaratan dan batas waktu yang ditentukan maka posisinya akan digantikan oleh Tim Peserta cadangan dari daerah yang lain.
o Urutan Pendaftaran didasarkan atas kelengkapan persyaratan dan tanggal pendaftaran serta pertimbangan aktivitas dan prestasi daerah dalam kegiatan arung jeram.
o Panitia akan membatalkan Kelas Putri jika tim yang mendaftar kurang dari 4 (empat) Tim.
o Hasil seleksi administrasi oleh Panitia/PB FAJI bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat.
PROSEDUR PENDAFTARAN / registrasi
• Menghubungi Panitia KEJURNAS ARUNG JERAM 2009 dan mengisi Formulir Pendaftaran Peserta.
• Membayar Uang Pendaftaran, sebesar Rp. 750.000,- (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah)
• Uang Pendaftaran tersebut sudah termasuk Biaya Asuransi, akomodasi dan fasilitas lainnya yang ditentukan selama Kejuaraan.
• Setiap Tim Peserta dikenakan Uang Jaminan Pendaftaran sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah rupiah) yang akan dikembalikan pada hari terakhir Kejuaraan, bila tidak ada klaim atas kerusakan atau kehilangan Peralatan yang dipinjam.
• Pembayaran Uang Pendaftaran melalui transfer bank:
a.n. rekening PB Federasi Arung Jeram Indonesia
Bank Mandiri KCP Jakarta Tebet Supomo
No. 124-00-0541557-6
• Pendaftaran Tim Peserta harus dilengkapi dengan :
1. Formulir Pendaftaran yang telah diisi lengkap
2. Surat pengantar dari Pengda FAJI
3. Fotocopy kartu identitas (KTP/SIM/Kartu Mahasiswa-Pelajar)
4. Surat keterangan sehat dari Dokter untuk tiap anggota Tim Peserta.
5. Paspoto 3 x 4 sebanyak 2 (dua) lembar untuk setiap peserta
6. Bukti Transfer Biaya Pendaftaran Kejuaraan
• Bukti transfer beserta Formulir Pendaftaran dan kelengkapan lainnya dikirim via email kepada PB FAJI/ Panitia Kejurnas Arung Jeram 2009 / pb_faji@faji.org dan fajida_banten@yahoo.com serta via Fax (021) 837 05448, atau Pos selambat-lambatnya diterima pada tanggal 5 Desember 2009.
• Semua Dokumen Asli harus diserahkan/ditunjukkan pada saat Daftar Ulang di tempat Kejuaraan.
Pengembalian Uang Pendaftaran & Uang Jaminan:
1. Apabila terjadi pembatalan oleh Tim Peserta, maka tidak ada pengembalian Biaya Pendaftaran.
2. Biaya yang dibebankan oleh Bank sebagai persyaratan administrasi pengiriman atau pengembalian dana pembatalan menjadi tanggung jawab Tim sepenuhnya.
3. Uang Jaminan tidak dikembalikan bila Tim Peserta tidak melakukan Start pada Hari Pertama Kejuaraan.
FORMAT KOMPETISI
KEJUARAAN NASIONAL ARUNG JERAM 2009 mempertandingkan 4 (empat) jenis lomba yang terdiri dari :
• Sprint (memperebutkan 100 point)
• Head to Head (memperebutkan 200 point)
• Slalom (memperebutkan 300 point)
• Down River (memperebutkan 400 point)
Peraturan lomba mengacu pada JUKLAK FAJI yang diadaptasi dari peraturan IRF.
• Sprint
Merupakan salah satu jenis lomba yang mepertandingkan kecepatan dalam mendayung.
• Sprint Head to Head
Tim berpacu pada pada babak Head to head secara simultan dengan sistem gugur.
• Slalom
Slalom merupakan salah satu jenis lomba yang yang mempertandingkan kecepatan dan keterampilan Tim dalam mendayung dan mengendalikan perahu melintasi rintangan berupa gawang yang terdapat di badan sungai.
• Down River Race
Down River Race (DRR) merupakan jenis lomba arung jeram yang memperlombakan kecepatan Tim dalam mendayung perahu pada jarak jauh.
PERATURAN UMUM KEJUARAAN
PERAHU & PERLENGKAPAN LOMBA
• Perahu Karet disiapkan oleh Panitia dengan spesifikasi sesuai peraturan dalam kejuaraan FAJI/IRF.
o Apabila terjadi perubahan spesifikasi perahu, akan diberitahukan oleh Panitia sebelum lomba.
o Perlengkapan Lomba yang WAJIB disediakan oleh Tim Peserta adalah :
 Peralatan Arung Jeram : dayung, pelampung, helm.
 Peralatan rescue, tiap Tim minimal terdiri dari:
2 flip line, 2 pisau, dan 1 tali lempar.
• Tim Peserta yang tidak menggunakan peralatan dimaksud pada poin 1 dan 2, pada saat Start, didiskualifikasi untuk nomor lomba yang bersangkutan.
• Dilarang menambah kelengkapan perahu diluar ketentuan yang telah ditetapkan. Pelanggaran atas ketentuan ini akan diberi sanksi diskualifikasi.
• Perahu milik Panitia hanya dipinjamkan pada saat lomba, peserta bertanggung jawab atas kerusakan yang diakibatkan kelalaian maupun kesengajaan dalam pemakaian.
FASILITAS PESERTA
• Panitia hanya menyediakan kaos Tim sebanyak 8 (delapan) orang per tim.
• Akomodasi
o Peserta akan menginap di rumah-rumah penduduk (Home stay) yang terpilih sebagai pemondokan atlet.
o Peserta diharapkan membawa perlengkapan tidur
o Pemondokan disediakan mulai tanggal 20 Desember 2009 (pkl.12.00 WIB) s/d 24 Desember 2009 (pkl. 13.00 WIB)
• Konsumsi
• Konsumsi peserta disediakan oleh Panitia selama perlombaan sejak tanggal 20 Desember 2009 (makan malam) hingga tanggal 24 Desember 2009 (makan siang)
• Panitia tidak menyediakan snack/Coffe break, hanya menyediakan makan pagi, makan siang dan makan malam sesuai jadwal yang ditetapkan
• Transportasi
o Panitia menyediakan transportasi untuk setiap Tim peserta yang tidak membawa kendaraan sendiri dari pintu tol Serang Timur. Untuk peserta dari luar daerah yang menggunakan pesawat terbang, panitia menyediakan jemputan dari bandara Soekarno Hatta ke lokasi KEJURNAS ARUNG JERAM 2009.
o Setiap Tim Peserta harus mengkonfirmasi jadwal kedatanganya ke Panitia.
o Panitia menyediakan transportasi lokal selama kegiatan berupa angkutan dari Pemondokan ke lokasi start dan kembali dari Finish
• Personal Utilitas
Setiap peserta akan mendapatkan: Tanda Pengenal Peserta, Nomor Dada (BIB), dan Sertifikat.
HADIAH
Kepada para pemenang, Panitia menyediakan hadiah berupa Uang Pembinaan dengan Total Rp 30.000.000+ Trophy + Sertifikat :
• Juara umum : Total Rp. 30,000,000 (Tiga Puluh Juta Rupiah)
Juara I Rp 10.000.000,-
Juara II Rp 8.000.000,-
Juara III Rp 6.000.000,-
Juara IV Rp 4.000.000,-
Juara V Rp 2.000.000,-
TELEKOMUNIKASI
Di lokasi pertandingan, tersedia jaringan telekomunikasi telepon selular oleh Indosat. Jaringan TELKOMSEL dan XL hanya dapat tertangkap dibeberapa titik.

MEDIKAL, ASURANSI & RESCUE
• Setiap peserta harus membawa obat-obatan pribadi jika memiliki penyakit khusus.
• Panitia mengharapkan peserta memiliki perlindungan asuransi tambahan, selama penyelenggaraan lomba.
• Panitia menyediakan fasilitas pengobatan, gawat darurat, ambulan, bantuan medis dan operasi rescue.
• Panitia pelaksana bertanggung jawab atas kecelakaan yang terjadi terhadap peserta selama berlangsungnya kegiatan.

WAKTU LATIHAN
Latihan dapat dilakukan sebelum Kejuaraan, namun Panitia tidak menyediakan perlengkapan dan fasilitas lainnya untuk latihan. Pada tanggal 20 Desember 2009, jam 16:00 seluruh rute Sungai Ciberang tertutup untuk latihan.
Penggunaan Route Lomba untuk latihan sejak 1 (satu) minggu sebelum Kejuaraan, harus seijin Panitia . Latihan hanya diijinkan bila menggunakan perlatan safety yang cukup.

BRANDING SPONSOR TIM
Tim peserta diperkenankan membawa Branding Sponsor tanpa dibebankan biaya iklan dengan ketentuan berikut:
• Perlengkapan : Dayung, helmet pada sisi kanan dan kiri.
• Kostum : Kaos, celana, topi, helmet dan ikat kepala tim.
• 2 spanduk ukuran maks 100 X 700 cm pada titik yang ditentukan Panitia.
Branding pada perahu, sisi depan dan belakang helm, nomor peserta dan arena lomba, diperuntukan untuk sponsor event dan akan dikenakan biaya iklan. Setiap penyertaan sponsor harus didaftarkan ke Panitia berikut branding yang akan dilakukan. Panitia berhak melarang branding di posisi tertentu yang telah menjadi hak Panitia. Nama sponsor diperbolehkan untuk digunakan sebagai nama Tim peserta.



MERCHANDIZING, PERLENGKAPAN OUT DOOR DAN CINDERA MATA
Pemuatan Logo, tulisan atau penyebutan event KEJURNAS ARUNG JERAM 2009 untuk keperluan komersial, serta penjualan perlengkapan Out Door dan cindera mata di sekitar lokasi penyelenggaraan kejurnas, dapat dilaksanakan hanya atas ijin dan kerjasama dengan Panitia. Pengaturan tempat dan waktu penjualan, diatur oleh Panitia.
TATA TERTIB
• Menjaga nama baik Tim, sesama Peserta, Panitia dan FAJI.
• Membangun keakraban dengan sesama Peserta, Tim, Panitia dan masyarakat lokal.
• Menggunakan Badge Peserta selama kegiatan berlangsung.
• Setiap Pengda diwajibkan membawa Panji-panji/Bendera Pengda FAJI yang melambangkan dinamika arung jeram di daerah masing-masing. Panji-panji juga akan digunakan saat defile Upacara Pembukaan dan Penutupan Keajuraan.
• Hadir dilokasi yang ditentukan sesuai dengan jadwal acara
• Mengikuti acara pembukaan dan penutupan sesuai dengan jadwal acara.
• Mengikuti lomba dengan sikap sportif.
• Mengutamakan keselamatan seluruh Tim pada saat lomba.
• Dilarang membawa, mengedarkan dan mengkonsumsi minuman keras, narkotika dan obat-obatan terlarang disekitar lokasi perlombaan berlangsung. Khusus pelanggaran atas klausul ini dapat dilaporkan kepada pihak yang berwajib.
• Menjaga kebersihan di lingkungan sungai dan sekitarnya serta perkampungan atlit.
• Menjaga ketertiban disekitar lokasi perlombaan dan perkampungan atlit.
• Dilarang menimbulkan kegaduhan selama kegiatan berlangsung.
KETENTUAN TAMBAHAN
• Bila ada perubahan pada peraturan diatas, atau ada hal lain yang belum diatur, akan diumumkan kemudian atau disampaikan pada saat technical meeting ditempat perlombaan.
• Semua ketetapan hasil lomba adalah final dan tidak dapat diganggu gugat.
ALAMAT KONTAK
Panitia Pelaksana :
KEJURNAS ARUNG JERAM CIBERANG BANTEN 2009
c/o PURI KARIKA BANJARASARI BLOK B 09 NO. 16 CIPOCOK JAYA SERANG BANTEN
(DEPAN MAPOLDA BANTEN)
Telp. (0254) 824 1374 / FAX (0254) 228464
Email : fajida_banten@yahoo.com

PIC : Agus Rasyid - 08561105333 / 081906252111
Arias Widodo - 08122375389 / 081510264356
Dulhak - 085214794996

Pendaftaran Tim Peserta :
Pengurus Besar Federasi Arung Jeram Indonesia ( PB FAJI)
Kompleks Gudang Peluru
Jl. Gudang Peluru Barat Blok X No.557,
Kebon Baru, Tebet, Jakarta 12830
Telp. (021) 835 5885 Fax (021) 837 05448.
Email : pb_faji@faji.org
KONTAK . Tinu Aprilia : 0818109014, Budi Yakin : 0813 89543540, Joni Kurniawan : 0812 641 7356
=== Up date informasi akan dimuat di Web FAJI : www.faji.org ===
READ MORE - INFORMASI DAN PERATURAN UMUM KEJUARAAN NASIONAL ARUNG JERAM (R-6) CIBERANG – BANTEN 2009 21 - 24 Desember 2009

Gunung Slamet




Gunung Slamet adalah gunung tertinggi di Jawa Tengah dan merupakan gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.432 mdpl. Pada masa penjelajahan dunia yang pertama Sir Frances Drake ketika melihat Gunung Slamet, segera mengarahkan perahunya dan berlabuh di Cilacap.
Gn. Slamet dapat didaki melalu 3 jalur, lewat jalur sebelah Barat Kaliwadas, lewat jalur sebelah selatan Batu Raden dan lewat jalur sebelah timur Bambangan. Dari ketiga jalur tersebut yang terdekat adalah lewat Bambangan, selain pemandangannya indah juga banyaknya kera liar yang dapat ditemui dalam perjalanan menuju ke puncak slamet.
JALUR BAMBANGAN
Jalur Bambangan adalah jalur yang sangat populer dan merupakan jalur yang paling sering didaki. Route Bambangan merupakan route terpendek dibandingkan route Batu Raden dan Kali Wadas. Dari kota Purwokerto naik bus ke tujuan Purbalingga dan dilanjutkan dengan bus dengan tujuan Bobot sari turun di Serayu. Perjalanan disambung menggunakan mobil bak angkutan pedesaan menuju desa Bambangan, desa terakhir di kaki gunung Slamet.
Di dusun yang berketinggian 1279 mdpi ini para pendaki dapat memeriksa kembali perlengkapannya dan mengurus segala administrasi pendakian. Selepas dari jalan aspal perkampungan belok ke kanan, Pendaki akan menyeberangi sungai dengan cara melompat dari satu batu ke batu yang lain, bila sedang musim hujan aliran air deras akan menutupi batu-batuan ini. Selanjutnya akan melewati ladang penduduk selama 1 jam menuju pos Payung dengan keadaan medan yang terjal.
Pos Payung merupakan pos pendakian yang menyerupai payung raksasa dan masih berada di tengah-tengah perkebunan penduduk. Selepas pos Payung pendakian dilanjutkan menuju pondok Walang dengan jalur yang sangat licin dan terjal di tengah-tengah lingkungan hutan hujan tropis, selama kurang lebih2 jam. Selepas pondok Walang, medan masih seperti sebelumnya, jalur masih tetap menanjak di tengah panorama hutan yang sangat lebat dan indah, selama kira-kira 2 jam menuju Pondok Cemara.
Sebagaimana namanya, pondok Cemara dikelilingi oleh pohon cemara yang diselimuti oleh lumut. Selepas pondok Cemara pendakian dilanjutkan menuju pos Samaranthu. Selama kira-kira 2 jam dengan jalur yang tetap menanjak dan hutan yang lebat. Samaranthu merupakan pos ke 4. Kira-kira 15 menit dari pos ini terdapat mata air bersih yang berupa sungai kecil. Selepas Samaranthu, medan mulai terbuka dengan vegetasi padang rumput. Pendaki akan melewati Sanghiang Rangkah yang merupakan semak-semak yang asri dengan Edelweiss di sekelilingnya, dan sesekali mendapati Buah Arbei di tengah-tengah pohon yang menghalangi lintasan pegunungan. Pendaki juga akan melewati Sanghiang Jampang yang sangat indah untuk melihat terbitnya matahari.
Kira-kira 30 menit kemudian pendaki akan tiba di Plawangan. Plawangan (lawang = pintu) merupakan pintu menuju puncak Slamet. Dari tempat ini pendaki akan dapat menikmati panorama alam yang membentang luas di arah timur. Selepas Plawangan lintasan semakin menarik sekaligus menantang, selain pasir dan bebatuan sedimentasi lahar yang mudah longsor pada sepanjang lintasan, di kanan kiri terdapat jurang dan tidak ada satu pohon pun yang dapat digunakan sebagai pegangan.
Di daerah ini sering terjadi badai gunung, oleh karena itu pendaki disarankan untuk mendaki di pagi hari. Kebanyakan pendaki meninggalkan barang-barang mereka di bawah, untuk memperingan beban. Dari Plawangan sampai di puncak dibutuhkan waktu 30- 60 menit. Dari sini pendaki dapat melihat puncak Slamet yang begitu besar dan hamparan kaldera yang sangat luas dan menakjubkan, yang biasa disebut dengan Segoro Wedi. Apabila kita ingin turun menuju jalur lain, misalnya Guci, pendaki harus melewati kompleks kawah untuk memilih jalur yang diinginkan.
JALUR KALIWADAS
Kaliwadas merupakan sebuah dusun yang berketinggian 1850 mdpi dan masuk wilayah Desa Dawehan, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, atau tepatnya berada pada barat daya lereng Gunung Slamet. Untuk menuju Kaliwadas dapat ditempuh dari kota Bumiayu menuju Pangasinan dengan menggunakan Angkutan Pedesaan jenis Colt yang memakan waktu 2 jam. Setiba di Pasar Pangasinan, perjalanan dilanjutkan menuju Kaliwadas dengan menggunakan Jeep Hardtop atau menggunakan angkutan umum jenis kendaraan terbuka yang beroperasi hingga pukul 18.00.
Pendaki dapat menyiapkan segala perbekalan dan perizinan dari Kaliwadas ini. Kira – kira 300 m selepas jalan desa, pendaki diarahkan menuju jalan setapak. Satu jam kemudian pendaki akan melewati Tuk Suci yang oleh penduduk setempat diartikan sebagai mata air suci. Di Tuk Suci ini terdapat aliran air yang dibendung, yang berfungsi sebagai pengairan desa di bawahnya. Selepas Tuk Suci, medan mulai menanjak menembus lorong-lorong tumbuhan Bambu yang berukuran kecil. Penduduk sekitar menyebutnya Pringgodani. Enam puluh menit kemudian pendaki akan tiba di pondok Growong.
Pondok Growong merupakan tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Di sekitar area ini banyak ditemukan pohon besar yang di bawahnya terdapat lubang berukuran cukup besar. Selepas pondok Growong lintasan relatif datar sampai pada sebuah jembatan kecil yang bemama taman Wlingi, yang berada di ketinggian 1953 mdpl. Di daerah ini terdapat persimpangan, lintasan yang lurus dan lebar menuju ke Sumur Penganten. Berjarak 500 m dari area terdapat sumber air, yang juga merupakan sebuah tempat keramat di mana banyak peziarah yang datang untuk meminta berkah.
Jalur ke kiri merupakan lintasan yang menuju ke puncak. Keadaan lintasan semakin menanjak. Di sepanjang lintasan mulai banyak dijumpai pohon tumbang dan pohon penyengat. Lintasan kadang tertutup oleh semak belukar sehingga pendaki harus waspada agar tidak tersesat. Lintasan mulai kembali melebar ketika pendaki melewati persimpangan Igir Manis yang berada di ketinggian 2600 mdpl. Di sekitar area ini akan didapati tetumbuhan Adelweiss dan tetumbuhan Arbei. Setelah itu pendaki akan sampai di Igir Tjowek yang berada di ketinggian 2750 mdpl. Daerah ini masuk kawasan Gunung Malang. Di sini terjadi pertemuan jalaur ini dengan jalur Baturaden. Beberapa meter kemudian barulah pendaki tiba di Plawangan.
Plawangan merupakan sebuah tanah yang cukup datar di daerah terbuka, sekaligus merupakan batas vegetasi. Untuk menuju puncak dibutuhkan waktu kira-kira 2 jam. Pendaki dapat berangkat pagi agar dapat menikmati keadaan puncak dan sekitamya dalam keadaan cuaca cerah. Selepas Plawangan lintasan semakin tajam hingga mencapai sudut pendakian 60. Selanjutnya keadaan lintasan semakfn parah dengan medan bebatuan vulkanik yang mudah longsor. Bau belerang terasa menyengat dari kawah ketika pendaki tiba di puncak bayangan. Setiba di daerah ini, pendaki tinggal melipir pada gigir kawah menuju arah timur.
Setelah melewati Tugu Surono yang berupa tumpukan batu, pendaki akan sampai di puncak tertinggi Gunung Slamet yang ditandai dengan patok triangulasi dan tower. Dulu tempat ini juga digunakan sebagai pemantauan aktivitas gunung api ini. Di puncak tertinggi kedua se-Jawa ini pendaki dapat menyaksikan pemandangan pada arah timur. Tampak beberapa puncak seperti Gunung Sumbing, Sundoro, Merbabu, Merapi, dan puncak Ciremai di arah barat. Semuanya berdiri kokoh sekan-akan menjadi pasak bumi Pulau Jawa.
JALUR BATU RADEN
Dari kota Purwokerto menuju tempat wisata Batu Raden menempuh jarak 15 km arah utara dan dapat ditempuh selama 30 menit dengan menggunakan Angkutan umum. Batu Raden yang merupakan daerah wisata yang terkenal dengan Pancuran Telu dan Pitu ini berada di ketinggian 760 mdpl. Pancuran tersebut merupakan aliran mata air panas yang mengandung belerang. Jalur ini merupakan jalur tersulit dan jarang dilalui pendaki.
Selepas pal Taman Wisata Batu Raden, lintasan berbelok ke kanan dan menurun. Dalam perjalanan menuju pos I banyak ditemui cabang lintasan, yang merupakan jalan tikus yang banyak dibuat oleh penduduk setempat. Di tengah perjalanan pendaki akan melewati sebuah sungai. Setelah itu lintasan kembali datar dengan sajian jurang yang menganga pada sisi kanan lintasan. Untuk sampai di pos I dibutuhkan waktu selama 3 jam.
Selepas pos I lintasan mulai menanjak dengan sajian hutan yang rimbun dan asri, selama 2 jam. Untuk sampai di pos III dibutuhkan waktu selama 3 jam dengan lintasan yang tidak begitu menanjak. Vegetasi di pos III masih dalam kungkungan hutan hujan Tropis. Selepas itu pendaki akan melipir pada sebuah punggungan tipis yang berada di ketinggian 1664 mdpl. Daerah tersebut bemama Igir Leiangar. Selepas pos IV, tepatnya di puncak Gunung Malang, akan ditemui persimpangan dengan jalur Kaliwadas. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju ke Plawangan, lalu berbelok ke kanan menuju puncak Slamet.
READ MORE - Gunung Slamet

Misteri Gunung Bromo




Dahulu ketika dewa-dewa masih senang turun ke dunia, kerajaan Majapahit mengalami serangan dari berbagai daerah. Penduduk bingung mencari tempat pengungsian, demikian juga dengan dewa-dewa. Pada saat itulah dewa mulai pergi menuju ke sebuah tempat, disekitar Gunung Bromo.
Gunung Bromo masih tenang, tegak diselimuti kabut putih. Dewa-dewa yang mendatangi tempat di sekitar Gunung Bromo, bersemayam di lereng Gunung Pananjakan. Di tempat itulah dapat terlihat matahari terbit dari Timur dan terbenam di sebelah Barat.
Di sekitar Gunung Pananjakan, tempat dewa-dewa bersemayam, terdapat pula tempat pertapa. Pertapa tersebut kerjanya tiap hari hanyalah memuja dan mengheningkan cipta. Suatu ketika hari yang berbahagia, istri itu melahirkan seorang anak laki-laki. Wajahnya tampan, cahayanya terang. Benar-benar anak yang lahir dari titisan jiwa yang suci. Sejak dilahirkan, anak tersebut menampakkan kesehatan dan kekuatan yang luar biasa. Saat ia lahir, anak pertapa tersebut sudah dapat berteriak. Genggaman tangannya sangat erat, tendangan kakinya pun kuat. Tidak seperti anak-anak lain. Bayi tersebut dinamai Joko Seger, yang artinya Joko yang sehat dan kuat.
Di tempat sekitar Gunung Pananjakan, pada waktu itu ada seorang anak perempuan yang lahir dari titisan dewa. Wajahnya cantik dan elok. Dia satu-satunya anak yang paling cantik di tempat itu. Waktu dilahirkan, anak itu tidak layaknya bayi lahir. Ia diam, tidak menangis sewaktu pertama kali menghirup udara. Bayi itu begitu tenang, lahir tanpa menangis dari rahim ibunya. Maka oleh orang tuanya, bayi itu dinamai Rara Anteng.
Dari hari ke hari tubuh Rara Anteng tumbuh menjadi besar. Garis-garis kecantikan nampak jelas diwajahnya. Termasyurlah Rara Anteng sampai ke berbagai tempat. Banyak putera raja melamarnya. Namun pinangan itu ditolaknya, karena Rara Anteng sudah terpikat hatinya kepada Joko Seger.
Suatu hari Rara Anteng dipinang oleh seorang bajak yang terkenal sakti dan kuat. Bajak tersebut terkenal sangat jahat. Rara Anteng yang terkenal halus perasaannya tidak berani menolak begitu saja kepada pelamar yang sakti. Maka ia minta supaya dibuatkan lautan di tengah-tengah gunung. Dengan permintaan yang aneh, dianggapnya pelamar sakti itu tidak akan memenuhi permintaannya. Lautan yang diminta itu harus dibuat dalam waktu satu malam, yaitu diawali saat matahari terbenam hingga selesai ketika matahari terbit. Disanggupinya permintaan Rara Anteng tersebut.
Pelamar sakti tadi memulai mengerjakan lautan dengan alat sebuah tempurung (batok kelapa) dan pekerjaan itu hampir selesai. Melihat kenyataan demikian, hati Rara Anteng mulai gelisah. Bagaimana cara menggagalkan lautan yang sedang dikerjakan oleh Bajak itu? Rara Anteng merenungi nasibnya, ia tidak bisa hidup bersuamikan orang yang tidak ia cintai. Kemudian ia berusaha menenangkan dirinya. Tiba-tiba timbul niat untuk menggagalkan pekerjaan Bajak itu.
Rara Anteng mulai menumbuk padi di tengah malam. Pelan-pelan suara tumbukan dan gesekan alu membangunkan ayam-ayam yang sedang tidur. Kokok ayam pun mulai bersahutan, seolah-olah fajar telah tiba, tetapi penduduk belum mulai dengan kegiatan pagi.
Bajak mendengar ayam-ayam berkokok, tetapi benang putih disebelah timur belum juga nampak. Berarti fajar datang sebelum waktunya. Sesudah itu dia merenungi nasib sialnya. Tempurung (Batok kelapa) yang dipakai sebagai alat mengeruk pasir itu dilemparkannya dan jatuh tertelungkup di samping Gunung Bromo dan berubah menjadi sebuah gunung yang dinamakan Gunung Batok.
Dengan kegagalan Bajak membuat lautan di tengah-tengah Gunung Bromo, suka citalah hati Rara Anteng. Ia melanjutkan hubungan dengan kekasihnya, Joko Seger. Kemudian hari Rara Anteng dan Joko Seger sebagai pasangan suami istri yang bahagia, karena keduanya saling mengasihi.
Pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian memerintah di kawasan Tengger dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, maksudnya “Penguasa Tengger Yang Budiman”. Nama Tengger diambil dari akhir suku kata nama Rara Anteng dan Jaka Seger. Kata Tengger berarti juga Tenggering Budi Luhur atau pengenalan moral tinggi, simbol perdamaian abadi.
Dari waktu ke waktu masyarakat Tengger hidup makmur dan damai, namun sang penguasa tidaklah merasa bahagia, karena setelah beberapa lama pasangan Rara Anteng dan Jaka Tengger berumahtangga belum juga dikaruniai keturunan. Kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa agar karuniai keturunan.
Tiba-tiba ada suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan syarat bila telah mendapatkan keturunan, anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo, Pasangan Roro Anteng dan Jaka Seger menyanggupinya dan kemudian didapatkannya 25 orang putra-putri, namun naluri orang tua tetaplah tidak tega bila kehilangan putra-putrinya. Pendek kata pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger ingkar janji, Dewa menjadi marah dengan mengancam akan menimpakan malapetaka, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita kawah Gunung Bromo menyemburkan api.
Kesuma anak bungsunya lenyap dari pandangan terjilat api dan masuk ke kawah Bromo, bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib :”Saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram, sembahlah Hyang Widi. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji kepada Hyang Widi di kawah Gunung Bromo. Kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger dan setiap tahun diadakan upacara Kasada di Poten lautan pasir dan kawah Gunung Bromo.
READ MORE - Misteri Gunung Bromo

Tahun 2050 Glestser di Pegunungan Alpen Akan Meleleh




Ilmuwan Austria memperingatkan, bahwa gletser di Pegunungan Alpen akan habis meleleh pada 2050 mendatang. (Photo credit should read JOE KLAMAR/AFP/Getty Images)
Ilmuwan Austria memperingatkan, bahwa pada 2050 mendatang gletser di Pegunungan Alpen akan habis mencair, dan akan menimbulkan kerugian yang sulit diduga pada seluruh daratan Eropa. Ini merupakan contoh terbaru dari pemanasan global. Setengah sebelumnya, ilmuwan mendapati peristiwa retaknya kerangka es terbesar di kawasan kutub utara Kanada, dan menurut mereka, bahwa semua ini adalah akibat pemanasan global.
Menurut laporan Reuters, bahwa obyek wisata Alpbach di Provinsi Alps, Austria, setiap tahun selalu mengadakan forum tentang masalah ekologi dan lingkungan setempat.
Dalam forum tersebut para ilmuwan menyatakan, bahwa sampai pada tahun 2050 mendatang gletser di Pegunungan Alpen akan meleleh semuanya.
Hasil penelitian ilmuwan Rolland Phursenna dari Institut Geologi Universitas, Austria mendapati, bahwa voluma gletser di atas Pegunungan Alpen yang berada di wilayah Provinsi Alps, Austria tengah menyusut dalam skala kurang lebih 3% setiap tahunnya, dan ketebalannya juga berkurang hingga sekitar 1 meter.
Ketebalan rata-rata gletser di Pegunungan Alpen saat ini adalah 30 meter, Phursenna mengatakan, prediksi lenyapnya glestser pada 2050 mendatang adalah perkiraan konservatif, jika lumeran gletser meleleh berdasarkan kecepatan saat ini, maka sebagian besar gletser akan lenyap sebelum 2037.
Phursenna menuturkan, kami yakin, bila sampai pada 2050 nanti, selain beberapa gletser yang berada 4.000 meter lebih di atas permukaan laut akan tetap eksis, gletser lainnya akan lenyap.
Sejak Februari tahun lalu, hasil pengukuran peneliti dari Akademi Ilmu Pengetahuan Swiss menunjukkan, bahwa sejak 1985-2000, gletser di daerah Pegunungan Alpen rata-rata berkurang 22%. Hal ini disebabkan perubahan iklim, kemarau dan faktor lain yang mengakibatkan melumernya gletser dalam skala luas.
Selain itu, lapisan es di Kutub Utara dan Selatan juga mencair, ketebalan lapisan es di kedua kutub telah menurun hingga pada titik terendah selama 1 abad terakhir. Jika lapisan es di kedua kutub tersebut mencair, maka itu akan menjadi sebuah bencana besar bagi warga dan negara di kawasan dataran rendah.
Indikasi ini menunjukkan, bahwa pemanasan global kian hari semakin parah, karena itu, dalam forum kali ini, para ahli tidak terlalu membahas masalah pemanasan global, tapi menghimbau mengambil langkah-langkah konkret untuk melindungi warga di daerah pegunungan Alpen. Sebab lumeran gletser dapat mengakibatkan banjir, sehingga mengancam keselamatan warga setempat.
Ilmuwan menuturkan, bahwa lumernya gletser menyebabkan banjir di kawasan Pegunungan Alpen, dan ancaman banjir bagi penduduk yang tinggal di lembah Pegunungan Alpen semakin besar, para ilmuwan menghimbau agar segera mengambil tindakan pencegahan untuk menjamin keselamatan mereka.
Selain itu, sejumlah besar sungai di Eropa yang berasal dari pegunungan tersebut akan menjadi masalah serius bagi Eropa jika gletser di pegunungan tersebut mencair sepenuhnya.
Pada awal Januari lalu, majalah bulanan (manuskrip pembaca) Amerika pernah melaporkan, Pegunungan Alpen menduduki 190.000 km persegi daerah jantung Eropa, selama ratusan tahun terus dieksplorasi, dan hingga kini hanya 17% areal yang di rancang menjadi daerah lindung taman umum.
Gunung Alpen yang tampak di layar televisi seperti tidak berpenghuni itu sebetulnya terdapat 14 juta penduduk di sana, 2/3 di antaranya berpusat di kawasan tersebut, sebagian besar daerah lembah Pegunungan Alpen tampak seperti “taman pemandangan besar” : pabrik, jalan kereta api, hotel, hunian, gereja, tempat parkir, tempat timbunan kayu, kedai, restoran dan toko serta instalasi lain yang merangkai dengan jalan utama yang bergelombang berkelok-kelok. Eksplorasi manusia yang berlebihan dan lenyapnya gletser serta beban transpor dan masalah lain telah membuat letih lelah gunung besar tersebut.
READ MORE - Tahun 2050 Glestser di Pegunungan Alpen Akan Meleleh
Template Design by burhanmandalawangi